Selasa, 12 Juni 2018

Kemenhub Rilis Kapal Kontainer 100 TEUs Buatan Galangan Janata


Kementerian Perhubungan merilis satu kapal kontainer buatan galangan PT Janata Marina Indah, Semarang. Kapal tersebut merupakan 1 dari 15 kapal kontainer yang dipesan Kemenhub untuk program Tol Laut.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Perhubungan Laut, Junaidi mengaatkan kapal yang dibuat oleh galangan Janata berkapasitas 100 TEUs ( twenty-foot equivalent unit) dan diberi nama Kendagha Nusantara 6.

"Kapal ini akan mendukung konektivitas pelayaran dal_am program Tol Laut, meningkatkan integrasi sistem angkutan untuk mengurangi disparitas harga," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis.com, Selasa (6/3/2018).

Kapal ini menurut Junaidi merupakan pesanan kesembilan dai 15 unit yang dipesan sejak 2015. Dia menambahkan, selain di galangan Janata, Kemenhub juga memesan kapal serupa di galangan yang berlokasi di Banten dan Lamongan. Kapal-kapal yang dipesan ini diharapkan bisa rampung tepat wktu dan bisa beroperasi pada April 2018.

Junaidi menuturkan, kapal kontainer milik negara diproyeksi bisa mendukung upaya penurunan harga bahan pangan dan bahan bangunan yang diangkut lewat program Tol Laut. Di samping kapal laut, Kemenhub juga memadukan akses darat dan udara untuk memperluas distribusi barang kebutuhan pokok ke wilayah terdepan, terpencil, dan pedalaman.

Di 2018, Kemenhub membuka 15 trayek Tol Laut dengan tiga pangkalan utama, yakni Teluk Bayur, Tanjung Priok, dan Tanjung Perak. Kemenhub menggelontorkan anggaran sebanyak Rp447,62 miliar untuk penyelenggaraan Tol Laut tahun ini.

sumber: tribun

Senin, 04 Juni 2018

Dok Kodja Bahari Benahi Fasilitas Graving Dock Palembang


Perusahaan galangan kapal nasional PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) melaksanakanan ground breaking untuk pekerjaan sipil rehabilitasi semi dock graving, pintu dok serta pembangunan dermaga di area shipyard Palembang.

Dirut PT.Dok & Perkapalan Kodja Bahari (DKB) Wahyu Suparyono mengatakan pembangunan seluruh fasilitas itu merupakan salah satu rencana strategis perseroan dalam menggunakan alokasi penggunaan dana penyertaan modal negara (PMN) APBN-P tahun anggaran 2015, yang diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp5,5 miliar.

"Pengerjaan fasilitas tersebut akan menggandeng perusahaan lokal yaitu PT. Gilas Perkasa dengan estimasi lama pengerjaan sekitar 90 hari kerja," ujar Wahyu, melalui siaran pers PT. DKB yang diterima Bisnis, Senin (14/5/2018).

Dia mengharapkan dengan rehabilitasi graving dock di Shipyard Palembang itu dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan khususnya dan masyarakat Indonesia di wilayah Sumatra Selatan pada umumnya.

Wahyu mengatakan pembangunan kembali graving dock ini diharapkan meningkatkan layanan kepada customer dan menjadi concern PT. DKB terpenuhi,sesuai dengan slogan Kementerian BUMN “One Vision, One Mision, One Family to Excellence”.

Perseroan, imbuhnya, akan terus bebenah dan terus bergerak maju untuk mendukung Pemerintah dalam mewujudkan program Indonesia sebagai poros maritim dan program tol laut, sesuai dengan nawa cita Presiden Joko Widodo.

Selain itu, kata Wahyu, PT.DKB berkomitmen mewujudkan program efisiensi logistik nasional dengan mengoptimalkan keberadaan PT.Air & Marine Supply (Airin). Perusahaan ini merupakan anak usaha PT. DKB yang bergerak di bidang usaha logistik,pergudangan dan mengantongi izin badan usaha pelabuhan (BUP).

"Pemberdayaan potensi internal perseroan akan terus kami lakukan untuk mendongkrak kinerja DKB saat ini dan di masa mendatang," ujar dia.

sumber: bisnis 

Minggu, 03 Juni 2018

160 Perusahaan Galangan Kapal Bakal Ramaikan RUA Iperindo


Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai (Iperindo) akan menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) dan sekaligus memilih kepengurusan asosiasi itu untuk periode 2018-2022.

Informasi yang dikumpulkan Bisnis pagelaran RUA Iperindo itu akan diramaikan dengan tiga bursa bakal calon Ketua Umum asosiasi tersebut untuk periode empat tahun mendatang.

Ketiga bakal calon itu antara lain; incumbent Eddy K.Logam dari PT.Logindo Samudera Makmur, Yance Gunawan (Dumas Shipyard) dan Askan Naim (Krakatau Shipyard).

Dikonfirmasi Bisnis, Ketua Umum DPP Iperindo Periode 2014-2018, Eddy K.Logam mengatakan, RUA bakal diikuti sekitar 160 perusahaan anggota Iperindo tersebut akan di gelar di Jakarta pada 3 Mei 2018.

Eddy juga menyatakan, dirinya siap mengabdi dan memimpin kembali kepengurusan Iperindo untuk masa bakti empat tahun mendatang.

"Saya berterima kasih kepada team pengurus yang telah berjuang dengan luar biasa sehingga banyak kemajuan yang telah dicapai selama empat tahun ini, anggota meningkat hampir dua kali lipat karena melihat kinerja pengurus periode ini," ujar Eddy kepada Bisnis, Selasa (1/5/2018).

Kendati begitu, menurut Bos PT.Logindo Samudera Makmur Tbk itu, masih banyak juga pekerjaan rumah yang masih harus dituntaskan agar Industri Maritim Indonesia menjadi kuat dan berdaulat.

"Oleh karena itu jika terpilih kembali saya akan berjuang dengan segenap tenaga untuk menuntaskan hal tersebut,"paparnya.

Sebagai incumbent, Eddy menegaskan bahwa semua calon telah menyatakan kesiapannya untuk berkompetisi secara sehat dan demokratis, untuk fokus kepada program visi dan misi yang akan membuat Iperindo semakin baik.

Walaupun dia mendengar ada pihak-pihak luar yang tidak bertanggung jawab yang mencoba merusak kesatuan pengurus Iperindo dengan melakukan black campaign, namun Eddy yakin anggota dan pengurus Iperindo adalah insan yang dewasa dan rasional dalam meniai sesuatu dan tidak mudah terprovokasi.

"Saya mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan dan bersama mendukung program Pemerintah menjadikan Indonesia yang kita cintai ini menjadi poros maritim dunia," ujar Eddy.

sumber: bisnis

Kamis, 17 Mei 2018

APBI : Penggunaan Kapal Nasional Untuk Ekspor Batubara Butuh Waktu Dua Tahun


Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyatakan dua tahun menjadi waktu yang cukup ideal untuk menyiapkan seluruh data terkait kewajiban penggunaan kapal nasional untuk ekspor batubara.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan ketersediaan data untuk penerapan kebijakan tersebut masih sangat minim. Disamping itu, jumlah armada kapal nasional sangat kurang.

"Penyusunan data-datanya belum lengkap. Yang paling fari bisa dilakukan setelah data-data siap. Perlu waktu setahun hingga dua tahun untuk siapkan itu," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Rabu (4/4).

Hendra mengungkapkan data hasil kompilasi dari surveyor, ketersediaan kapal untuk ekspor batu bara kurang dari 2%. Kebanyakan armadanya berupa kapal tongkang.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kemarin menyatakan penerapakan kebijakan tersebut akan ditunda hingga dua tahun. Hal itu untuk memberi waktu menyusun peta jalan (roadmap).

Untuk asuransi nasional, akan tetap diberlakukan dalam waktu dekat dengan toleransi tambahan waktu selama tiga bulan.

Seperti diketahui, Permendag No. 82/2017 tersebut mewajibkan penggunaan kapal dan asuransi nasional untuk ekspor batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Beleid yang diundangkan pada 31 Oktober 2017 itu rencananya bakal dijalankan secara efektif enam bulan setelah terbit.

Dalam pasal 5 diatur apabila armada angkutan laut nasional tidak mencukupi untuk kegiatan ekspor, maka bisa dilakukan juga dengan kapal angkutan laut asing. Namun, detail pelaksanaannya masih belum jelas.

Pelaku usaha, khususnya para eksportir langsung meminta agar penerapan beleid tersebut ditunda atau direvisi. Pasalnya, ketersediaan kapal nasional untuk kegiatan ekspor tersebut dinilai belum mencukupi.

CEO PT Arutmin Indonesia Ido Hutabarat mengatakan penundaan tersebut memang sesuai keinginan para eksportir. Meskipun begitu, penggunaan 100% kapal nasional tidak bisa langsung dilakukan pada dua tahun ke depan.

Dia menilai, kemampuan kapal nasional untuk menangani seluruh ekspor batu bara dari dalam negeri masih sulit bersaing pada dua tahun mendatang. Meskipun begitu, dirinya memahami maksud pemerintah yang ingin industri perkapalan nasional bisa bersaing secara global.

"Kalau mau diterapkan memang harus pelan-pelan. Feeling saya kapal nasional sampai bisa bersaing butuh lima sampai 10 tahun. Kalau dua tahun merangkak dulu lah," ujar Ido, Rabu (4/4).

Menurutnya, salah satu kendala yang akan dihadapi adalah perubahan skema penjualan dari FOB (free on board) ke CIF (cost, insurance, and freight). Hal itu kemungkinan sulit disepakati oleh pembeli.

"Kalau FOB kan pembeli yang menyiapkan kapalnya, kalau CIF penjual yang mencari. Untuk pembeli-pembeli besar seperti Jepang, misalnya, mereka pasti ingin FOB karena mereka kontrol kapalnya untuk sekalian dikirim," tandasnya.

sumber: kontan 

Selasa, 15 Mei 2018

CMA CGM Boyong Kapal Raksasa 10.642 TEUs ke Priok


Perusahaan pelayaran asal Perancis CMA CGM kembali memboyong kapal kontainer raksasa ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melayani rute langsung ke Amerika Serikat.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis Jumat (4/5/2018), CMA CGM membawa kapal raksasa APL Salalah berkapasitas 10.642 TEUs (10.642 kontainer) pada Rabu (3/5/2018). Kapal ini menorehkan sejarah baru sebagai kapal kontainer terbesar yang pernah berlabuh di Tanjung Priok.

APL Salalah bersandar di terminal Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan membongkat 1.666 TEUs dan memuat 2.818 TEUs. Walhasil, total bongkar muat dari kapal tersebut mencapai 4.484 TEUs dalam pelayaran perdananya ke Indonesia.

Setelah berlabuh di Tanjung Priok, APL Salalah akan berlayar ke Los Angeles dan Oakland, Amerika Serikat. Kapal ini memang melayani rute Java South East Asia Express Services atau Java SEA Express Services (JAX Services) dengan jadwal sandar mingguan secara rutin. 

CMA CGM menyebut, dengan mendatangkan kapal besar, konsumen dan pengguna jasa bisa efisiensi biaya logistik dan daya saing kinerja integrasi logistik. Sebelumnya, Presiden Direktur CMA-CGM Indonesia Farid Belbouab, mengatakan permintaan pengguna jasa untuk rute JAX Services terus bertumbuh sehingga pihaknya mendatangkan kapal yang lebih besar. Rute ini resmi dibuka pada April 2017 lalu.

"Kami mulai dengan kapal 8.000 TEUs sejak tahun lalu dan hasilnya sangat sukses. Secara bertahap kami membawa kapal yang lebih besar, 9.000 TEUs lalu 10.000 TEUs, bahkan mendekati 11.000 TEUs," jelasnya.

Saat ini, jaringan CMA CGM di Indonesia mencapai delapan cabang dan didukung oleh sub-agen di 15 lokasi pelabuhan. Jaringan akan menyokong arus barang dari Indonesia ke seluruh dunia di samping meningkatkan jenama atau brand CMA CGM seperti CNC, APL, dan ANL. Secara keseluruhan, armada CMA CGM mencapai 504 kapal dab berlabuh di lebih dari 420 pelabuhan di dunia. Tahun lalu, CMA CGM mengangkut hampir 19 juta TEUs. 

sumber: bisnis 

Senin, 14 Mei 2018

Genjot Arus Barang, Pelindo III Tambah 5 Crane di Tanjung Perak


PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menambah lima unit alat bongkar muat jenis harbour mobile crane atau HMC di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Alat bongkar muat jenis HMC bisa menangani bongkar muat barang untuk kapal berukuran panamax hingga post-panamax.

Direktur Teknik & ICT Pelindo III, Husein Latief mengatakan tiga unit HMC saat ini sedang dirakit di Terminal Jamrud, Tanjung Perak dan akan diserahterimakan pada Juli 2018.

Sementara itu, dua unit lainnya masih dalam tahap pengiriman dari pabriknya di Jerman. "Kami perkirakan [dua unit lainnya] bisa diserahterimakan pada September tahun ini,"ujarnya, Jumat (4/5/2018).

Husein menjelaskan tiga unit HMC memiliki kapasitas hingga 100 ton dengan jangkauan 46 meter. Adapun, dua unit HMC lainnya berkapasitas 120 ton dengan jangkauan hingga 51 meter. Kelima HMC itu memiliki teknologi mutakhir tele-assistance agar bisa dipantau dari jarak jauh atau dari gedung kantor.

Selain itu, data log kinerja HMC dapat diunduh untuk diperiksa data durasi operasioalnya. Kondisi mesin, catatan aktivasi alarm, pendeteksi cuaca dan lainnya juga bisa dipantau sebagai modal untuk analisis teknis perawatan HMC.

CEO Regional Jawa Timur Pelindo III, Onny Djayus, menambahkan, penambahan 5 unit HMC di Pelabuhan Tanjung Perak, akan meningkatkan kecepatan layanan bongkar muat curah kering, jumbo bag, dan general cargo di Terminal Jamrud. Pelindo III mencatat, arus barang di Terminal Jamrud pada tahun 2017 mencapai lebih dari 10 juta ton curah kering, 263 ribu meter kubik kargo, dan 66.253 unit barang.

Dengan beroperasinya HMC baru tersebut, Pelindo III siap melayani bongkar muat kapal besar demi meningkatkan efisiensi logistik di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," ujarnya.

Sebelumnya, Pelindo III juga telah membeli tiga unit reach stacker, alat pengangkat peti kemas untuk ditempatkan di Tanjung Perak. Tambahan fasilitas itu akan mempercepat layanan receiving (penerimaan), delivery (pengiriman), stripping (pengeluaran barang dari peti kemas), dan stuffing (pemasukan barang ke dalam peti kemas).

sumber: bisnis 

Rabu, 25 April 2018

Pengembangan 3 Pelabuhan Prioritas Butuh Dana Rp 30 Triliun


Direktur Proyek Pelindo, Saut F. Siagian menyebut, proyek pengembangan pelabuhan-pelabuhan hub-internasional Kuala Tanjung, Patimban, dan Bitung membutuhkan dana setidaknya Rp 30 triliun.

"Totalnya, untuk sampai pada fase ultimate itu kita butuh setidaknya Rp 30 triliun," jelasnya.

Rencana pengembangan itu menunjukan komitmen serius pemerintah dalam merealisasikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) prioritas.

Sebetulnya, pemerintah telah menyelesaikan pelabuhan internasional Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Pelabuhan itu telah dinyatakan siap beroprasi lantaran telah lolos uji coba. Per 19 April 2018, kapal tanker MT Mars telah berhasil berlabuh di Terminal Multipurpose.

Kendati begitu, pengembangan pelabuhan-pelabuhan tersebut diyakini dapat membuka akses pelayaran yang lebih besar, sehingga pertumbuhan ekonomi maritim semakin tergenjot.

"Dengan pelabuhan hub-internasional Kuala Tanjung di Sumatera Utara, Patimban di Jawa Barat, dan Bitung di Timur, akses-akses pelabuhan Indonesia dari Barat ke Timur semakin terbuka," ujar Direktur Pengembangan PP, Bastary Pandji Indra.

Asal tahu saja, royek RJPMN prioritas itu telah ditawarkan pada investor asal Brazil, DTA Engenharia Group hari ini.

sumber: kontan