Kamis, 17 Januari 2019

Humpuss Intermoda (HITS) Akan Menambah Lima Kapal Tahun Ini

                                                                           Ilustrasi

PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) memastikan akan menambah kapal tahun ini. Penambahan itu untuk memperkuat bisnis perusahaan.

Budi Haryono, Direktur Utama HITS mengatakan penambahan kapal tahun ini sebanyak lima unit terdiri dari dua unit Liquefied Natural Gas (LNG), satu unit kapal oil tanker dan dua kapal jenis dregging. "Untuk pengadaan ini akan diserap dari rencana belanja modal atau capital expenditure tahun ini sebesar US$ 62 juta," ujarnya.

Menurut Budi, pengadaan kapal ini sebagian kemungkinan akan direalisasikan pada periode semester I tahun 2019. "Sebenarnya ini masih dalam perencanaan, namun kalau jika permintaan tinggi, bisa saja penambahan kapal tahun ini lebih dari lima," ujarnya.

Sementara sumber pendanaan, kata Budi HITS sebagian berasal dari lembaga keuangan atau perbankan. "Selain dari Bank, kami juga berencana menertbitkan obligasi di kuartal II/2019," ujarnya.

sumber:  kontan 

Selasa, 15 Januari 2019

Kemenhub Tingkatkan Pengawasan Kapal


Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terus meningkatkan pengawasan terhadap permohonan pendaftaran kapal berbendera Indonesia, khususnya bagi kapal bendera asing yang sebelumnya menggunakan pendaftaran kapal dengan bendera kemudahan (Convenience Flag) atau didaftarkan dalam sistem pendaftaran kapal untuk satu kali jalan (One Single Voyage Registration).

Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor UM.003/1/8/DK-19 tanggal 9 Januari 2019 tentang Persyaratan Tambahan Penggantian Bendera untuk Kapal Berbendera Kemudahan dan Sistem Pendaftaran Kapal Satu Kali Jalan (Convenience Flag and One Single Voyage Registration) Menjadi Berbendera Indonesia.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Capt. Sudiono mengungkapkan, saat ini kita dihadapkan pada semakin banyaknya permohonan penggantian bendera kapal asing menjadi kapal berbendera Indonesia, yang sebelumnya menggunakan pendaftaran kapal dengan bendera kemudahan atau didaftarkan dalam sistem pendaftaran kapal untuk satu kali jalan.

“Kami akan memberikan kemudahan bagi penggantian bendera kapal untuk kapal asing dimaksud, apabila kapal telah/sedang diklaskan ke badan klasifikasi yang diakui oleh pemerintah (Biro Klasifikasi Indonesia) atau anggota International Association of Classification Societies) dengan melampirkan dokumen dan sertifikat klasifikasi tersebut,” jelas Capt. Sudiono di Jakarta, Senin (14/1).

Sedangkan bagi kapal asing yang sebelumnya merupakan kapal yang terdaftar dalam bendera kemudahan atau pernah didaftarkan dalam sistem pendaftaran sekali jalan dan tidak terkena kewajiban klas, akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh yang terperinci sehingga didapat kepastian kebenaran data yang diajukan sebelum dapat dilakukan proses penggantian bendera.

“Kapal sebagaimana dimaksud wajib memberikan surat pernyataan tentang kebenaran dokumen dan penjelasan yang logis tentang alasan apabila menggunakan bendera sekali jalan termasuk melampirkan Dokumen Riwayat Kapal (Continuous Synopsis Record).” ujar Capt. Sudiono.

Adapun lamanya waktu proses yang ditimbulkan dokumen yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak tertentu menjadi tanggungjawab pemohon.

Capt. Sudiono menegaskan, apabila pada akhir pemeriksaan diketahui atau ditemukan adanya ketidaksesuaian data/dokumen yang diberikan maka Ditjen Perhubungan Laut dapat membatalkan/menolak permohonan kapal tersebut.

“Dengan diterbitkannya surat edaran ini diharapkan para petugas yang melaksanakan penggantian bendera dapat melakukan pemeriksaan lebih teliti sehingga pemiliki kapal tidak bisa menolak apabila ditemukan kapalnya bermasalah,” tutup Capt. Sudiono.

Sebagai informasi, bendera kemudahan itu adalah kapal yang menggunakan bendera kebangsaan Negara yang tidak sama dengan Kebangsaan dari pemilik kapal tersebut. Namun Bendera-bendera kemudahan ini biasanya banyak memberikan keringanan dalam hal persyaratan dan pajak sehingga banyak disalahgunakan seperti pemalsuan data teknis kapal.

Adapun beberapa nama Negara yang dapat memberikan Bendera Kemudahan kapal antara lain Antigua & Barbuda, Aruba, Bahamas, Belize, Bermuda, Cambodia, Canary Island, Caymand Island, Cook Island Cyprus, German International, Lebanon, Liberia, Luxemburg, Malta, Marshall Island, Mauritius, Metherland Antilles, Panama, St. Vincent, Sri Langka, Tuvalu, Vanuta, Burma, Barbades.

sumber:  suaramerdeka

Senin, 14 Januari 2019

Tarif Transshipment di Tanjung Perak Didiskon, Ini Tanggapan INSA Surabaya

                                                                         Ilustrasi

Pelaku usaha pelayaran di Surabaya menyambut diskon tarif penanganan alih muat peti kemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak karena dapat mengurangi biaya logistik. 

Ketua DPC Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya Stenven Lesawengen mengatakan pemberian diskon tarif paket handling transshipment peti kemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak merupakan langkah tepat. Tarif itu berlaku baik di terminal bongkar maupun di terminal muat.

"Ini hal baik yang dilakukan pada awal 2019 karena dapat mereduksi biaya logistik yang ditanggung oleh pengguna jasa," katanya, Senin (14/1/2019).

Dia berharap akan lebih banyak lagi terobosan pada masa mendatang dalam menurunkan biaya logistik dan peningkatan arus pertumbuhan barang. Stenven melihat pembangunan di kawasan timur Indonesia sedang digenjot sehingga volume kargonya luar biasa. 

"Dan, Tanjung Perak merupakan loading port atau pelabuhan muat bagi banyak kargo ke arah KTI [kawasan timur Indonesia]," ujarnya. 

Seperti diketahui, mulai 15 Januari 2019, Pelindo III akan menerapkan tarif khusus handling transshipment kontainer domestik antarterminal di Pelabuhan Tanjung Perak, yakni sebesar 65% dari tarif normal. Dengan kata lain, perusahaan pelayaran mendapat diskon handling kontainer transshipment sebesar 35%.

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung mengatakan diskon yang diberikan Pelindo III ini merupakan yang pertama ada di pelabuhan di Indonesia. 

Berdasarkan data Pelindo III, selama tiga tahun terakhir, arus kontainer transshipment di Tanjung Perak menunjukkan tren positif. Arus kontainer transshipment yang pada 2016 tercatat 33.374 boks, meningkat menjadi 35.131 boks pada 2017, dan bertambah lagi menjadi 36.980 boks pada 2018.

Kontainer transshipment itu berasal dari wilayah Sumatra, Jakarta dan sekitarnya, serta Kalimantan, yang selanjutnya diangkut ke berbagai wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan sebaliknya.

sumber: bisnis 

Minggu, 13 Januari 2019

Kapal Tanker Vs Kapal Pipa Laut Tabrakan di Kepri

                                                                           Ilustrasi

Kapal Tanker MT Antea dan Kapal MV Star Centurion, yang membawa pekerja menangani pipa bawah laut, bertabrakan di Perairan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepri.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tanjungpinang Budi Cahyadi mengatakan tabrakan terjadi Minggu (13/1) malam. Akibatnya, salah satu kapal dalam kondisi miring.

Budi menjelaskan, pihaknya tadi pagi sudah memperoleh kabar 22 orang penumpang kapal berhasil diselamatkan dengan menggunakan perahu sekoci.

"Jadi begitu kapal oleng, dua sekoci dikeluarkan dari kapal, dan ditarik dua kapal penyelamat lainnya. Penumpang berhasil dibawa ke Pelabuhan Singapura," kata Budi, sebagaimana dilansir Antara, Senin (14/1/2019).

Budi juga sudah menghubungi aparat yang berwenang di Singapura untuk memastikan hal tersebut. Sementara Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tanjungpinang menugasi sejumlah personel untuk siaga di Perairan Kijang, Bintan.

"Satu kapal siaga di perairan Kijang. Kemudian setelah dapat dipastikan seluruh penumpang selamat, petugas kembali," ujarnya.

Budi enggan membeberkan kronologis peristiwa tersebut, karena bukan wewenangnya. Ia mengatakan pihak yang berwenang menyampaikan kronologis permasalahan itu adalah KSOP Tanjunguban, Bintan.

Namun pihak KSOP Tanjunguban, hingga berita ini disiarkan, belum merespons pertanyaan Antara.

"Kami tidak mau 'outside' dalam melaksanakan tugas," ucap Budi. 

sumber:  detik

Kamis, 10 Januari 2019

Kapal Tugboat Sri Maju 933 Tenggelam Karena Mengalami Kebocoran

          
                                                                           Ilustrasi

Kapal tugboat (TB) Sri Maju 933 yang menarik kapal tongkang HP 270 tenggelam di perairan Laut Jawa, Jumat (28/12/2018). Kapal tenggelam karena mengalami kebocoran di bagian buritannya.

"Berdasarkan laporan kru kapal, kapal TB. Sri Maju 933 ini mengalami kebocoran pada buritan kapal sehingga ruang mesin terendam air," Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Marunda, Yuserizal, dalam keterangannya Sabtu (29/12/2018).

Yuserizal menuturkan, buritan kapal bocor hingga air laut masuk hingga setinggi 1 meter ke dalam kapal.

10 kru yang ada di dalam kapal sudah berupaya memompa air supaya balik ke laut, namun tak membuahkan hasil.

"Menurut laporan kru, kapal mengalami kebocoran sehingga air masuk ke ruang mesin setinggi 1 meter. Kru kapal sudah berusaha memompa namun tidak berhasil," terang Yuserizal.

Yurizal menuturkan pada saat kejadian cuaca dalam kondisi yang buruk dengan ombak yang diperkirakan mencapai 2 meter.

Seluruh kru kapal Tugboat TB Sri Maju 933 yang tenggelam di kira-kira 60 mil laut arah Timur Laut Pulau Pabelokan atau kira-kira 45 mil laut dari Arjuna Offshore berhasil dievakuasi.

Evakuasi dilakukan oleh kapal tug boat TB Biliton 288 yang sedang melintas tak jauh dari lokasi tenggelamnya TB Sri Maju 933.

Kru kapal akhirnya dibawa ke Pelabuhan Marunda.

sumber:  tribunnews

Rabu, 09 Januari 2019

Ditabrak Kapal Tanker, Terumbu di Selat Pantar Diduga Rusak


Bentang dan panorama alam bawah laut Indonesia merupakan permata yang diburu oleh para penyelam di seluruh dunia. Namun sayangnya salah satu tempat favorit para penyelam di kawasan Nusa Tenggara Timur, belum lama ini didera musibah dari sebuah kapal tanker yang kandas.

Lokasi kandasnya kapal tanker Ocean Princess, merupakan zona pemanfaatan pariwisata di kawasan konservasi Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Project Executant for Lesser Sunda WWF Indonesia, Muhammad Erdi Lazuardi, mengatakan sampai saat ini belum ada investigasi lebih lanjut untuk meneliti kerusakan Selat Pantar.


"Tim investigasi sudah siap, namun masih belum berangkat karena masih menunggu SK (surat keputusan) dari Kadis (Kepala Dinas) DKP (Dinas Kelautan san Perikanan) NTT," ujar Erdi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (9/1).

Namun, Erdi melanjutkan, pada tanggal 1 Januari 2019 sudah dilakukan survei awal yang dilakukan perwakilan KKP melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang.

"Survei awal menunjukkan adanya kerusakan terumbu karang. Tentunya setelah investigasi, kerusakan ini akan dikalkulasi kemudian dendanya dibebankan kepada pelaku," ujarnya.

"Denda itu nantinya akan digunakan untuk upaya konservasi kawasan yang mengalami kerusakan."

Setidaknya ada 26 titik menyelam untuk menikmati keindahan bawah laut di kawasan SAP Selat Pantar. Beberapa yang populer di kalangan wisatawan adalah half moon bay, peter's prize, crocodile rook, shark close.

SAP Selat Pantar, yang menghubungkan Pulau Alor dan Pulau Pantar, merupakan kawasan konservasi dengan luas lebih dari 276 ribu hektare. 

Kondisi perairan di Selat Pantar memiliki ekosistem perairan yang menarik dengan keanekaragaman ekosistem terumbu karang yang tinggi. 

Mengutip situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, jenis-jenis ikan karang hias yang banyak ditemukan di perairan Kepulauan Alor antara lain butter flay fish, angel fish, ikan klon, dan ikan lepu. 

Tak hanya itu saja, pada musim tertentu perairan Selat Pantar merupakan jalur migrasi paus dan lumba-lumba dari Flores menuju Samudera Indonesia. Peristiwa ini merupakan daya tarik kawasan Selat Pantar. 

Selat Pantar mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna, serta pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, budidaya, dan wisata khususnya wisata bahari. 

Untuk menuju Selat Pantar, perjalanan bisa ditempuh dari Kupang dengan menggunakan kapal feri menuju Lanrantuka dengan waktu tempuh sekitar 13 jam. 

Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan menggunakan kapal yang lebih kecil ke pelabuhan Kalabahi, Kepulauan Alor. Penginapan dan rumah makan, bisa dengan mudah ditemukan di Kalabahi.

sumber: cnnindonesia

Selasa, 08 Januari 2019

Kenaikan Harga Batubara Gairahkan Industri Galangan Kapal


Sektor galangan kapal atau shipyard sangat optimistis menatap tahun 2019. Penyebabnya adalah kenaikan harga batubara yang diprediksi akan mencapai level 100 dolar Amerika Serikat (AS) per ton dari kuartal terakhir 2018 yang berada di kisaran 97 dolar Amerika per ton. Selain itu, bantuan dari regulasi yakni Peraturan Kepala (Perka) BP Batam Nomor 11/2018 menyumbang kontribusi signifikan untuk perbaikan kinerja shipyard tahun 2018.

“Harga batubara mulai membaik. Sehingga banyak perusahaan tambang batubara yang butuh armada untuk pengangkutan mineral dan batubara (minerba) dan akan memesan kapal ke Batam. Biasanya kapal yang dipesan adalah tugboat dan tongkang,” kata Sekretaris Batam Shipyard Offshore Association (BSOA) Novi Hasni kepada Batam Pos, Kamis (3/1/2019).

Novi mengatakan ada sekitar 10 galangan kapal yang sudah mu­lai bangkit karena rutin men­dapatkan pesanan dari pemilik kapal.

“Selain minerba, kapal-kapal ini juga dipesan untuk mengangkut kelapa sawit dan juga nikel,” katanya.

Kelapa sawit ini pada umumnya berasal dari Sumatera, khususnya Riau yang kaya akan produk tandan kelapa sawit, dimana harganya naik Rp 63,08 per kilogram pada periode 5-11 Desember lalu. Dengan harga terendah untuk sawit usia tiga tahun sebesar Rp 909,78 per kilogram dan harga tertinggi untuk sawit umur 10 hingga 20 tahun sebesar Rp 1.222,5 per kilogram. Sedangkan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp 5.639,27 per kilogram.

Ditambah lagi, perusahaan migas besar Batam, yakni McDermott, akan segera mengerjakan proyek besar bertajuk Tyra Redevelopment Project. Proyek tersebut bernilai hingga Rp 11 triliun dan pastinya akan membutuhkan tenaga kerja yang banyak.

Novi mengungkapkan bahwa Mc Dermott akan memerlukan kapal-kapal pendukung dan kapal untuk mengangkut minyak. Ini juga menjadi ladang penghasilan bagi shipyard di Batam karena sudah lama tidak mendapat proyek dari perusahaan migas.

Namun, ada kendala utama yang menghalangi yakni pungutan PPh 22. Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2008, PPh 22 adalah pajak penghasilan yang dibebankan kepada badan usaha baik milik pemerintah ataupun swasta yang melakukan kegiatan perdagangan terkait ekspor, impor atau reimpor. Nilainya sekitar 2,5 persen dari nilai impor.

Kapal buatan Batam juga termasuk salah satu barang yang dikenakan PPh 22 karena banyak materinya yang didatangkan lewat impor. Permasalahannya yakni PPh 22 ini tidak pernah dipungut selama enam tahun sebelumnya. Pemerintah malah memungutnya saat ini sehingga menimbulkan beban biaya yang cukup besar bagi si pembuat kapal.
Estimasinya untuk harga kapal tongkang senilai Rp 3 miliar, maka PPh 22-nya mencapai Rp 75 juta.

“Imbasnya nanti harga kapal akan menjadi mahal sehingga tidak kompetitif lagi di pasaran,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Kantor Pelabuhan Badan Pengusahaan (BP) Batam Nasrul Amri Latif mengatakan, pihaknya ikut mendorong perkembangan galangan kapal lewat penerbitan Perka BP Batam Nomor 11/2018. Poin penting yang mendorongnya adalah saat kapal melakukan perbaikan (maintenance) di Batam, maka biaya labuhnya akan dikurangi sebesar 50 persen.

“Ini untuk mendorong shipyard di Batam agar memiliki sesuatu yang bisa dipromosikan di depan para investor. Ini untuk meningkatkan daya saing Batam,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan tren harga minyak akan kembali membaik di 2019 karena ada sejumlah proyek migas seperti yang dilakukan McDermott. Sehingga akan ikut mendorong pertumbuhan positif galangan kapal. Mes-kipun sempat anjlok drastis pada tahun lalu, dimana harga minyak mentah berjangka Intermediate West Texas Intermediate (WTI) merosot hampir 25 persen, sementara Brent anjlok lebih dari 19,5 persen.

“Meningkatnya peluncuran kapal akan berpengaruh kepada meningkatnya kegiatan ekonomi di Batam,” paparnya.

Masih Unggulan

Awal tahun 2019, geliat industri galangan diharapkan jauh lebih baik dari 2018 lalu. Membaiknya perekonomian Batam juga bisa berdampak terhadap sektor unggulan ini.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam Rudi Sakyakirti mengatakan sektor galangan kapal masih menjadi industri unggulan di Batam. Sempat mengalami penurunan dan kembali membaik di akhir tahun, diharapkan tren ini terus berlanjut.

“Saya berharapnya tahun ini semakin banyak proyek (kapal) yang masuk ke Batam, sehingga bisa membuka lapangan kerja,” kata Rudi di Sekupang, Kamis (3/1).

Hingga saat ini pihaknya belum ada komunikasi dengan Batam Shipyard and Offshore Assosiation (BSOA) terkait proyek apa saja yang didapatkan Batam tahun ini.

“Laporan belum ada masuk ke saya. Nanti baru saya akan tanyakan. Semoga banyak pekerjaan yang didapatkan industri galalangan di sini,” lanjut Rudi.

Perusahaan lain yang sempat dikabarkan akan melakukan penerimaan besar-besaran tahun ini juga belum ada kelanjutannya. Ia menyebutkan tahun ini diperkirakan ada ribuan tenaga kerja yang akan direkrut.

“Tahun lalu kan sempat ada informasi seperti McDermott dan perusahaan pembuatan pipa untuk menambah karyawan karena proyek masuk di 2019 ini. Mudah-mudahan lah jadi,” tambahnya.

sumber:  batampos

Senin, 07 Januari 2019

Puing Besi Bahayakan Kapal

                                                                              Ilustrasi

Dua rekanan di Aceh Barat menyatakan keluhannya terhadap puing besi yang tertancap di depan demaga Pelabuhan Jetty di Suak Indrapuri, Meulaboh. Pasalnya, keberadaan puing besi di dalam laut itu kerap membahayakan kapal ketika merapat ke dermaga. “Harapan kita, besi yang tertancap di laut dekat dermaga itu bisa dibersihkan,” kata Nanda Ferdiansyah, kuasa pimpinan PT Krueng Beukah kepada Serambi di Meulaboh, Minggu (6/1) kemarin.

Didampingi Kepala Cabang PT Cahaya Laut Peunaga, Safrizal, Nanda menjelaskan, persoalan puing besi di laut itu sudah lama dikeluhkan pihaknya. Sebab, puing besi tersebut sudah pernah memakan korban, yakni menggores Kapal Pundi Rezeki yang membawa semen hingga bocor saat merapat ke Pelabuhan Jetty.

“Perbaikan kapal yang bocor kala itu menguras uang Rp 100 juta lebih, belum lagi semen juga ikut basah. Padahal, kapal itu membawa semen sebanyak 2.800 ton yang dapat menambah ketersediaan semen di barat selatan Aceh untuk pembangunan serta dapat menjaga stabilitas harga,” jelasnya.

Sebab itu, Safrizal dan Nanda berharap, instansi terkait segera melakukan pembersihan puing besi yang tertancap di laut dekat pelabuhan tersebut. Mereka juga minta perhatian dari Pemkab Aceh Barat selaku pemilik Pelabuhan Jetty Suak Indrapuri yang dibangun Singapura pascatsunami tempo hari.

“Kalau kondisi seperti sekarang, kami ragu dan tidak bisa jamin kapal aman merapat ke pelabuhan. Soalnya, Kapal Pundi Rezeki yang kerja sama dengan kami sudah pernah menjadi korban puing besi itu. Padahal, ini ada pihak yang menghubungi kami dan menanyakan, apakah kapal bisa bersandar di Pelabuhan Jetty,” tukas Nanda.

Dia membeberkan, selain puing besi, di dasar laut depan dermaga itu juga masih banyak bekas batu bara yang tumpah beberapa tahun silam, ketika dua perusahaan di daerah itu masih menggunakan Pelabuhan Jetty sebagai lokasi bongkar muat batu bara untuk PLTU Nagan Raya dan PT Mifa Bersaudara. Oleh karena itu, ucapnya, perlu pengerukan serta pembenahan pelabuhan sehingga bisa dimanfaatkan sebagai aset untuk meraup pendapatan daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Aceh Barat, Jhon Aswir yang ditanyai Serambi, kemarin, mengungkapkan, Pelabuhan Jetty merupakan aset Pemkab Aceh Barat yang saat ini dikelola oleh PT Pelindo. Terhadap harapan pembersihan puing besi itu, terangnya, beberapa tahun silam ketika Dishub dijabat kepala lama, pernah disampaikan ke pihak Pelindo. “Tentu, kita akan sampaikan kembali, termasuk akan berkoordinasi dengan PT Pelindo terkait harapan pengguna pelabuhan ini,” ujarnya.

Jhon mengakui, bahwa Pemkab dan Pelindo juga akan melakukan MoU lanjutan, termasuk soal bagi hasil dari pengelolaan pelabuhan. “Saat ini, kami juga masih menunggu sikap Pelindo yang belum menyetor terhadap bagi hasil yang lalu yakni sekitar Rp 40 juta lebih. Pernah ditagih sekitar bulan Agustus 2018, namun hingga kini belum dilunasi ke kas daerah,” tandas Kadishub Aceh Barat.

sumber: tribunnwes

Kamis, 03 Januari 2019

Kapal Tanker yang Terdampar di Alor NTT Belum Bisa Dievakuasi

                                                                      Ilustrasi

Kapal tanker Ocean Princess karam di perairan dekat pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor. Namun evakuasi belum bisa dilakukan karena cuaca buruk.

"Rencana evakuasi kapal pada Rabu (2/1) malam, tetapi batal dilakukan karena gelombang di perairan sekitarnya masih cukup tinggi," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Ganef Wurgiyanto kepada Antara di Kupang, NTT, Kamis (3/1/2019).

Dia mengatakan petugas masih menunggu sampai kondisi cuaca di wilayah perairan laut reda. Menurut dia, rencananya kapal tersebut akan dievakuasi ke Pelabuhan Dulionong untuk diproses lebih lanjut.

Kapal tanker Ocean Princess dilaporkan karam di pesisir kepulauan Alor, Kabupaten Alor, NTT, saat dalam pelayaran dari Dili, Timor Leste, menuju Singapura.
Baca juga: Kapal Berbendera Indonesia Ditabrak Kapal Tanker Panama di Kepri

Kapal tersebut membawa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari Dili, Timor Leste, dengan tujuan Singapura. Kapal yang dinakhodai Kapten Ahira Sroyer itu disertai 18 anak buah kapal (ABK).

Kapal tersebut diketahui terdampar pada Jumat (28/12), tetapi baru dilakukan pemeriksaan pada Rabu (2/1) karena petugas dari Kupang baru tiba di Alor.

Kapal berbendera Cook Island (Kepulauan Cook) itu karam pada koordinat 08 10'944" Lintang Selatan (LS) dan 124 25'53T" Bujur Timur (BT) di wilayah perairan laut sekitar Desa Aemoli.

Berdasarkan dokumen, pemilik kapal tersebut tinggal di Singapura. Kapten kapal itu adalah Ahira Sroyer (45), warga negara Indonesia, yang lahir di Biak.

sumber: detiknews